Dalam suatu
pelayaran Patih Sebatang dari Pagarruyung Minangkabau, telah melewati Selat
Sangulun, kemudian memasuki sela antara Bukit Marunting dengan Bukit Batuaji di
Ulu Batang Kawa, akhirnya tiba di Benua Sarang Peruya yang dizaman itu masih
berada di tepi laut, dipimpin oleh kepala suku yang bernama Rangga Ilung.
Di Benua Sarang
Peruya, Patih Sebatang sempat mengawini Dayang Ilung adik kandung Rangga Ilung,
seorang dara jelita kembang kesayangan Benua Sarang Peruya. Selain ketertarikan
kecantikan rupanya dan adik kandung kepala suku yang berpengaruh dan disegani
penduduk, maka perkawinan ini memudahkan urusan perniagaan Patih Sebatang
sebagai pedagang.
Dari perkawinan
ini, lahirlah seorang anak laki – laki, mereka beri nama Cenaka Burai dan ada
pula yang menyebut Pinang Kaburai. Pada saat masih kecil dan belum mengenal
wajah ibunya, ia dibawa Patih Sebatang kembali ke Pagarruyung, sedangkan Dayang
Ilung tetap tinggal di Sarang Peruya, karena tidak mau berlayar jauh
meninggalkan kampung halaman kelahirannya.
Perpisahan
dengan suami yang tercinta dan anak kandung sibiran tulang yang disayangi,
sangat berat dirasakan oleh Dayang Ilung. Namun keberangkatan mereka ini mau
tidak mau terpaksa dilepaskan juga dengan sedih dan uraian air mata. Selain membekali
anaknya segadur (sebaskom) air susu
sebagai bekal makanan Cenaka Burai selama perjalanan, diberikan pula sebentuk
cincin kepada suami sebagai pengingat agar sang suami tidak melupakannya.
Pada saat
bersamaan dengan keberangkatan suami dan anaknya Cenaka Burai, Dayang Ilung
menanam sebiji buah kelapa yang baru tumbuh dan seekor anak ayam jantan yang
baru menetas sebagai tanda peringatan dan kenang – kenangan hari keberangkatan
orang – orang yang dicintai yang tidak diketahui kapan akan kembali.